Dampak yang menghancurkan dari AI terhadap pekerjaan di Cina: sebuah peringatan untuk Prancis?

Adrien

Januari 2, 2026

découvrez comment l'essor de l'intelligence artificielle en chine bouleverse le marché de l'emploi et ce que cela pourrait signifier pour la france. une analyse essentielle des défis à venir.

Ketika revolusi digital yang dipimpin oleh kecerdasan buatan secara mendalam mengubah ekonomi global, Tiongkok kini berada di garis depan perubahan yang diakibatkannya. Negara ini, yang telah lama menjadi lambang kekuatan industri dan pertumbuhan cepat, kini menghadapi perubahan radikal pada pasar tenaga kerja-nya. Otomatisasi yang dipercepat dan adopsi besar-besaran AI melemahkan sebagian besar pekerjaan tradisionalnya, menciptakan iklim ketidakpastian yang nyata di kalangan pekerja. Fenomena ini sudah berdampak nyata: perusahaan-perusahaan Tiongkok mengurangi jumlah karyawan, menyesuaikan strategi perekrutan mereka, dan para lulusan baru kesulitan menemukan posisi dalam kondisi baru ini.

Menghadapi situasi yang sangat mengkhawatirkan ini, pertanyaan yang muncul bagi Prancis adalah: apakah negara ini juga terkena risiko yang sama terkait dengan perkembangan kecerdasan buatan? Jika saat ini pasar tenaga kerja Prancis tampak belum terpengaruh, tanda-tanda mengkhawatirkan pertama di Tiongkok bisa jadi merupakan gelombang kejut global, sebuah peringatan bagi ekonomi Eropa dan sekitarnya. Prancis, negara dengan jaringan industri dan sektor jasa yang padat, harus mengamati perubahan ini dengan seksama sambil menyiapkan respons yang tepat guna menjaga masa depan profesionalnya.

Perubahan drastis pasar tenaga kerja di Tiongkok akibat kecerdasan buatan

Selama beberapa tahun terakhir, Tiongkok menempatkan dirinya sebagai pemimpin dalam pengembangan dan integrasi AI di industrinya. Teknologi di Tiongkok kini tidak hanya terbatas pada penelitian, tetapi juga meluas ke produksi dan layanan, membentuk ulang banyak fungsi secara keseluruhan. Berbeda dengan Eropa di mana diskusi masih sering bersifat spekulatif, di Tiongkok dampak AI terhadap pekerjaan adalah realitas yang dirasakan langsung oleh para pekerja sehari-hari.

Salah satu contoh nyata terdapat pada sektor pengembangan perangkat lunak. Saat ini, lebih dari separuh kode yang diproduksi secara internal oleh beberapa perusahaan dihasilkan atau dibantu oleh algoritma AI. Huawei, raksasa teknologi Tiongkok, mengumumkan bahwa otomatisasi telah memungkinkan pengurangan beban kerja insinyur perangkat lunak hingga 30%, dan berharap mencapai pengurangan 70% dalam beberapa tahun ke depan. Efisiensi yang meningkat ini mendorong rasionalisasi jumlah tenaga kerja, di mana perusahaan tidak lagi perlu merekrut sebanyak spesialis atau bahkan harus mengurangi jumlah karyawan yang ada.

Konsekuensinya terasa jelas: menurut sebuah studi yang dilakukan oleh McKinsey, lebih dari sepertiga perusahaan di Greater China memperkirakan kehilangan pekerjaan signifikan akibat adopsi AI dan otomatisasi. Beberapa bahkan berencana mengurangi jumlah karyawan lebih dari 10% pada tahun berikutnya. Fenomena ini sejalan dengan tren perlambatan ekonomi secara umum, yang diperburuk oleh krisis sektoral seperti properti dan sanksi internasional, tetapi dampak AI tetap menjadi pemicu penting dalam dinamika ini.

Profil para pekerja yang terdampak juga berubah. Terutama para lulusan muda yang merasakan tekanan ini: di sebuah negara di mana hampir 12,7 juta pendatang baru di pasar tenaga kerja diperkirakan pada tahun 2026, persaingan menjadi sangat ketat. Banyak yang menghadapi peningkatan jumlah profil junior yang cukup dengan bantuan AI, yang mempertanyakan nilai pengalaman profesional tradisional. Fenomena ini mencolok dalam sistem yang selama ini menilai peningkatan keterampilan dan jalur karier bertahap, dan sudah terlihat meningkatnya ketidakamanan di kalangan generasi muda aktif.

temukan bagaimana perkembangan kecerdasan buatan di Tiongkok mengguncang pasar tenaga kerja dan pelajaran apa yang dapat diambil Prancis untuk mengantisipasi perubahan ini.

Studi kasus: Frances Xu, korban yang diantisipasi dari revolusi digital di Tiongkok

Frances Xu, seorang wanita berusia tiga puluhan dan direktur pemasaran di Hong Kong, merupakan contoh nyata dari perubahan ini. Meskipun posisinya stabil, ia merasa tidak aman terhadap efek otomatisasi. Alih-alih menunggu mengalami pengurangan jumlah karyawan, Frances memilih untuk mendiversifikasi keahliannya. Saat ini ia sedang belajar pengobatan tradisional Tiongkok, pekerjaan yang dikenal sulit untuk diotomatisasi, berharap mendapatkan keamanan yang lebih baik menghadapi gelombang teknologi.

Kasusnya menyoroti poin penting: menghadapi AI, fleksibilitas, kemampuan untuk berinovasi kembali, dan mengembangkan keterampilan yang disebut “manusiawi” atau pelengkap mesin menjadi aset penting. Namun, tidak semua pekerja memiliki sumber daya atau kesempatan yang sama untuk beradaptasi dengan cepat, sehingga menimbulkan kesenjangan sosial dan profesional.

Strategi Tiongkok dalam mengelola dampak AI pada pekerjaan dan tenaga kerja

Menghadapi revolusi digital yang didorong oleh AI, Tiongkok mengadopsi strategi ganda. Di satu sisi, perusahaan-perusahaan yang sering didukung oleh pemerintah mengandalkan pendekatan “kolaborasi manusia-mesin” untuk meredam efek negatif pada tenaga kerja. Di sisi lain, otoritas berperan sebagai regulator khususnya dalam pengawasan ketat terhadap pemutusan hubungan kerja massal, untuk menghindari instabilitas sosial.

Keterlibatan negara yang kuat dalam jaringan ekonomi memungkinkan pengurangan jumlah karyawan secara bertahap, sehingga menghindari gelombang pengangguran masif. Pengelolaan yang cermat ini disertai dengan pembekuan perekrutan di beberapa sektor, langkah hati-hati agar tidak semakin mengguncang pasar tenaga kerja Tiongkok.

Perusahaan teknologi seperti Tencent atau Baidu menyatakan bahwa AI tidak berarti menghilangkan pekerjaan, melainkan mengubah pekerjaan. Mereka mendorong pengalihan pekerja ke tugas yang bernilai tambah tinggi atau kreatif, yang tidak dapat dipisahkan dari kecerdasan manusia.

Strategi ini tidak tanpa kekurangan, karena kenaikan AI mengganggu banyak pekerjaan berkeahlian rendah atau repetitif, mengancam kelompok yang paling rentan. Risiko meningkatnya ketimpangan, terutama antara kota-kota besar dengan tingkat teknologi maju dan daerah yang kurang urban. Namun, rencana pemerintah juga mendukung pengembangan jalur pelatihan profesional yang sesuai, yang pada akhirnya dapat mendorong penciptaan pekerjaan baru.

Berikut adalah daftar fokus intervensi yang diprioritaskan di Tiongkok:

  • Pengawasan ketat terhadap PHK massal untuk membatasi ketegangan sosial
  • Promosi kolaborasi antara manusia dan AI dalam proses industri
  • Pembekuan sementara perekrutan di sektor-sektor yang paling terdampak
  • Pengalihan keterampilan melalui pelatihan berkelanjutan
  • Pengembangan pekerjaan yang terkait dengan teknologi dan industri kreatif
temukan bagaimana kecerdasan buatan mengubah pasar tenaga kerja di Tiongkok dan pelajaran penting yang harus dipetik Prancis untuk mengantisipasi perubahan ini.

Perbandingan dampak AI terhadap pasar tenaga kerja di Tiongkok dan Prancis

Ketika Tiongkok sudah merasakan konsekuensi mendalam dari otomatisasi, Prancis mengamati fenomena ini dengan jarak tertentu. Di Prancis, pertanyaan tentang dampak AI pada pekerjaan masih sangat teoretis untuk saat ini, tetapi penundaan ini tidak menutup kemungkinan adanya penyesuaian serupa di masa depan seperti yang dialami Tiongkok.

Konteks Prancis memiliki kekhasan yang penting. Di satu sisi, pasar tenaga kerja lebih kaku, dengan perlindungan sosial yang lebih kuat dan sistem dialog sosial yang terstruktur. Di sisi lain, Prancis sering kali tertinggal dalam adopsi teknologi baru dibandingkan Tiongkok, sebagian karena regulasi ketat dan debat publik yang sengit tentang risiko sosial.

Kondisi ini melindungi pekerja untuk sementara, tetapi tidak membuat mereka kebal terhadap transformasi radikal yang dipicu oleh kecerdasan buatan. Saat ini, perusahaan-perusahaan Prancis secara bertahap berinvestasi dalam solusi AI untuk meningkatkan daya saing mereka, terutama di sektor manufaktur, keuangan, dan kesehatan.

Menurut para pakar, Prancis pada akhirnya bisa mengalami pengurangan tenaga kerja yang serupa, terutama pada pekerjaan berkeahlian rendah yang paling mudah diotomatisasi. Tantangannya adalah mengantisipasi dan mendukung transisi profesional melalui kebijakan publik yang tepat dan pelatihan yang terfokus agar keunggulan manusia dalam ekonomi digital tidak hilang.

Tabel perbandingan faktor-faktor dampak AI pada pekerjaan di Tiongkok dan Prancis

Faktor Tiongkok Prancis
Adopsi AI Sangat cepat dan besar-besaran, terutama di bidang teknologi dan industri Progresif, dengan kehati-hatian dan debat publik
Perlindungan sosial Lebih lemah, kurang kaku, penyesuaian tenaga kerja cepat Kuat, pasar tenaga kerja kaku, perlindungan pekerja meningkat
Peran Negara Intervensi langsung untuk menjaga stabilitas sosial Peran regulasi lebih tidak langsung, melalui legislasi dan dialog sosial
Lulusan muda Persaingan ketat, penggantian oleh profil junior dibantu AI Tekanan meningkat tetapi integrasi masih memungkinkan dengan pelatihan
Industri utama yang terdampak Teknologi, manufaktur, layanan Industri, keuangan, kesehatan, layanan

dampak AI pada masa depan profesional pekerja Tiongkok: model yang menginspirasi Prancis

Adopsi alat AI yang dipercepat di Tiongkok menandai sebuah perubahan besar dalam konsep pekerjaan itu sendiri. Jika otomatisasi dipandang sebagai alat meningkatnya produktivitas, ia juga disertai ancaman nyata terhadap kelangsungan pekerjaan, menciptakan iklim ketidakpercayaan di antara para pekerja. Masa depan profesional kini penuh ketidakpastian, mendorong gerakan ganda untuk beradaptasi dan mencari keterampilan baru.

Banyak pekerja merasakan stres yang meningkat, mengantisipasi pemecatan akibat “kedaluwarsa” profesional yang disebabkan oleh mesin. Fenomena ini mempengaruhi moral dan produktivitas, dan menimbulkan tantangan psikologis yang efek jangka panjangnya terhadap kesehatan kerja belum banyak dipahami. Penderitaan profesional ini sangat terasa di kalangan pekerja muda yang paling banyak terpengaruh oleh persaingan dengan AI.

Beberapa beralih ke pekerjaan yang dinilai “tahan” terhadap otomatisasi, seperti layanan personal, kesehatan, maupun bidang budaya dan kreatif. Namun, transisi ini membutuhkan dukungan pelatihan masif yang seringkali belum memadai di lapangan.

Terjadi pula fenomena pemadatan pekerjaan menuju profil hibrida, yang mampu bekerja secara sinergis dengan AI, menguasai keterampilan teknis dan manusia sekaligus. Tren ini mendorong pemikiran ulang kurikulum pelatihan awal dan berkelanjutan, dengan fokus pada fleksibilitas dan pembelajaran sepanjang hayat.

Risiko bagi Prancis dalam menghadapi peningkatan AI: pelajaran dari Tiongkok

Prancis tidak bisa mengabaikan sinyal peringatan yang dikirim Tiongkok. Revolusi digital yang digerakkan oleh kecerdasan buatan dapat menjadi tantangan sosial yang serius dalam jangka pendek atau menengah bagi negara ini. Risiko yang diidentifikasi meliputi:

  • Peningkatan ketimpangan antara pekerjaan yang bisa dan tidak bisa diotomatisasi;
  • Ketidakamanan lulusan muda menghadapi persaingan yang diperkuat oleh AI yang sangat canggih;
  • Tekanan pada sistem perlindungan sosial dan asuransi pengangguran jika terjadi gelombang pemutusan hubungan kerja;
  • Risiko ketegangan sosial jika transisi tidak dikelola dengan kebijakan pendukung yang efektif;
  • Perubahan cepat cara bekerja dengan meningkatnya teleworking dan platform digital.

Menghadapi tantangan ini, Prancis harus bersiap menyesuaikan kebijakan publik, memperkuat pelatihan profesional, dan mendorong kolaborasi manusia-mesin yang benar-benar bermanfaat. Ini juga membutuhkan debat inklusif mengenai peran AI dalam ekonomi, untuk menghindari eskalasi kecemasan dan menjamin masa depan profesional yang layak dan berkelanjutan bagi semua.

Sektor mana yang paling berisiko terhadap kehilangan pekerjaan terkait AI di Tiongkok dan Prancis?

Dampak AI tidak merata di berbagai sektor ekonomi. Di Tiongkok maupun Prancis, beberapa bidang lebih rentan, terutama yang melibatkan tugas-tugas repetitif atau yang mudah diotomatisasi. Dalam konteks Tiongkok, tekanan terbesar dirasakan di:

  • Sektor manufaktur, di mana robotisasi secara bertahap menggantikan seluruh lini produksi;
  • Layanan administrasi dan manajemen, yang diotomatisasi melalui AI pemrosesan data;
  • Pengembangan perangkat lunak, dengan alat AI generatif yang mempermudah produksi kode;
  • Perdagangan dan logistik, di mana robot menangani fungsi persiapan dan pengiriman.

Di Prancis, sektor industri dan jasa mulai menghadapi tantangan ini, dengan perhatian khusus pada:

  • Industri otomotif dan aeronautika, dua pilar pekerjaan industri;
  • Layanan keuangan dan perbankan, di mana AI perlahan menggantikan penasihat tradisional;
  • Kesehatan, terutama dalam tugas administratif dan pencitraan medis yang diotomatisasi;
  • Ritel dan distribusi besar, yang tengah mengalami digitalisasi besar-besaran.

Tabel berikut merangkum paparan sektor ini, menunjukkan persamaan dan perbedaan antara kedua negara.

Sektor Tiongkok – Tingkat Paparan Prancis – Tingkat Paparan
Manufaktur dan industri berat Tinggi Sedang hingga tinggi
Layanan administrasi dan manajemen Tinggi Sedang
Pengembangan perangkat lunak Sangat tinggi Tinggi
Perdagangan dan logistik Tinggi Sedang
Keuangan dan perbankan Sedang Tinggi
Kesehatan Sedang Sedang hingga tinggi
temukan bagaimana kecerdasan buatan mengubah pasar tenaga kerja di Tiongkok dan pelajaran untuk mengantisipasi dampaknya di Prancis.

Bagaimana pelatihan profesional bisa menjadi alat dalam menghadapi era baru AI?

Dalam konteks perubahan teknis dan sosial ini, pelatihan profesional terbukti menjadi salah satu alat paling kuat untuk memungkinkan adaptasi para pekerja. Di Tiongkok, terjadi peningkatan program pelatihan ulang yang ditargetkan bagi pekerja yang terancam mengalami kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi.

Pelatihan ini fokus pada penguasaan keterampilan hibrida, menggabungkan penguasaan alat digital, pengetahuan tentang kecerdasan buatan, dan pengembangan kemampuan “manusiawi” yang tak tergantikan seperti kreativitas, komunikasi, atau manajemen proyek. Misalnya, beberapa perusahaan menawarkan jalur pelatihan yang dikhususkan pada kolaborasi manusia-robot, di mana karyawan belajar bekerja sama dengan AI secara efektif dalam produksi atau layanan.

Prancis juga mulai memperkuat pendekatannya, dengan bergantung pada kebijakan publik yang mendorong pembaruan keterampilan sepanjang karier, melalui mekanisme seperti Compte Personnel de Formation (CPF) atau kemitraan yang diperkuat dengan sektor swasta. Namun, kecepatan dan efektivitas transformasi ini masih harus dibuktikan dalam menghadapi adopsi teknologi yang cepat.

Beberapa inisiatif yang patut diperhatikan adalah:

  1. Pendirian pusat unggulan yang didedikasikan untuk pelatihan AI dan pekerjaan masa depan.
  2. Dorongan pelatihan ulang yang dipercepat untuk sektor-sektor yang paling terdampak.
  3. Pengembangan pelatihan campuran Manusia-AI untuk mengoptimalkan efisiensi kerja.
  4. Penguatan program pendampingan individu dan kelompok untuk para pekerja.
  5. Promosi pembelajaran berkelanjutan di semua sektor aktivitas.

Prospek masa depan: menemukan keseimbangan antara manusia dan kecerdasan buatan

Contoh Tiongkok telah menunjukkan bahwa otomatisasi tidak boleh dipandang hanya sebagai ancaman. Ini juga merupakan peluang luar biasa untuk menemukan kembali pendekatan terhadap pekerjaan, mendorong inovasi, dan meningkatkan kualitas kehidupan profesional. Ketegangan terletak pada kemampuan mengelola transisi ini tanpa mengorbankan individu dalam prosesnya.

Untuk itu, beberapa langkah aksi muncul secara global:

  • Perancangan tata kelola AI yang bertanggung jawab, menggabungkan regulasi dan dorongan inovasi.
  • Pengembangan budaya perusahaan yang menghargai adaptasi dan pembelajaran berkelanjutan.
  • Investasi dalam sektor yang menghasilkan pekerjaan berkualitas dan berkelanjutan.
  • Penciptaan skema solidaritas untuk mengatasi kehilangan pekerjaan yang tak terhindarkan.
  • Dialog sosial yang diperdalam untuk mengantisipasi frustrasi dan mengembangkan legislasi.

Pengalaman dan transformasi di Tiongkok menjadi peringatan sekaligus panduan bagi Prancis. Jika dampak AI pada pekerjaan sudah nyata di sana, masih ada waktu bagi negara ini untuk mengantisipasi, beradaptasi, dan menghadapi revolusi digital dengan pragmatisme dan humanisme.

{“@context”:”https://schema.org”,”@type”:”FAQPage”,”mainEntity”:[{“@type”:”Question”,”name”:”Apa penyebab utama kehilangan pekerjaan yang terkait dengan AI di Tiongkok?”,”acceptedAnswer”:{“@type”:”Answer”,”text”:”Kehilangan pekerjaan di Tiongkok terutama disebabkan oleh otomatisasi tugas-tugas repetitif, pembuatan kode komputer otomatis, dan rasionalisasi tenaga kerja yang didorong oleh peningkatan efisiensi yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan.”}},{“@type”:”Question”,”name”:”Apakah Prancis siap menghadapi dampak AI pada pasar tenaga kerjanya?”,”acceptedAnswer”:{“@type”:”Answer”,”text”:”Prancis memiliki pasar tenaga kerja yang lebih terlindungi dan kaku, sehingga memberikan perlindungan tertentu dalam jangka pendek. Namun, menghadapi kenaikan AI, Prancis harus memperkuat pelatihan profesional dan menyesuaikan kebijakan publiknya untuk membatasi risiko ketidakamanan dan kehilangan pekerjaan massal.”}},{“@type”:”Question”,”name”:”Sektor mana yang paling rentan terhadap otomatisasi di Prancis dan Tiongkok?”,”acceptedAnswer”:{“@type”:”Answer”,”text”:”Sektor seperti manufaktur, layanan administrasi, pengembangan perangkat lunak, keuangan, perdagangan dan logistik adalah yang paling terdampak oleh otomatisasi di Tiongkok dan Prancis, dengan tingkat yang bervariasi sesuai tingkat kematangan teknologi dan karakteristik lokal.”}},{“@type”:”Question”,”name”:”Bagaimana pekerja Tiongkok mencoba beradaptasi dengan revolusi digital?”,”acceptedAnswer”:{“@type”:”Answer”,”text”:”Beberapa pekerja mengikuti pelatihan untuk pekerjaan yang sulit diotomatisasi, seperti pengobatan tradisional, sementara yang lain mengembangkan keterampilan hibrida untuk berkolaborasi dengan AI. Rekonversi dan pembelajaran berkelanjutan adalah strategi utama menghadapi perubahan pasar tenaga kerja.”}},{“@type”:”Question”,”name”:”Pelajaran apa yang bisa diambil Prancis dari pengalaman Tiongkok dengan AI?”,”acceptedAnswer”:{“@type”:”Answer”,”text”:”Prancis bisa belajar pentingnya regulasi proaktif, pendampingan yang terfokus bagi pekerja, dan penerapan sistem pelatihan yang efektif, agar dapat mengubah dampak AI menjadi peluang daripada ancaman.”}}]}

Apa penyebab utama kehilangan pekerjaan yang terkait dengan AI di Tiongkok?

Kehilangan pekerjaan di Tiongkok terutama disebabkan oleh otomatisasi tugas-tugas repetitif, pembuatan kode komputer otomatis, dan rasionalisasi tenaga kerja yang didorong oleh peningkatan efisiensi yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan.

Apakah Prancis siap menghadapi dampak AI pada pasar tenaga kerjanya?

Prancis memiliki pasar tenaga kerja yang lebih terlindungi dan kaku, sehingga memberikan perlindungan tertentu dalam jangka pendek. Namun, menghadapi kenaikan AI, Prancis harus memperkuat pelatihan profesional dan menyesuaikan kebijakan publiknya untuk membatasi risiko ketidakamanan dan kehilangan pekerjaan massal.

Sektor mana yang paling rentan terhadap otomatisasi di Prancis dan Tiongkok?

Sektor seperti manufaktur, layanan administrasi, pengembangan perangkat lunak, keuangan, perdagangan dan logistik adalah yang paling terdampak oleh otomatisasi di Tiongkok dan Prancis, dengan tingkat yang bervariasi sesuai tingkat kematangan teknologi dan karakteristik lokal.

Bagaimana pekerja Tiongkok mencoba beradaptasi dengan revolusi digital?

Beberapa pekerja mengikuti pelatihan untuk pekerjaan yang sulit diotomatisasi, seperti pengobatan tradisional, sementara yang lain mengembangkan keterampilan hibrida untuk berkolaborasi dengan AI. Rekonversi dan pembelajaran berkelanjutan adalah strategi utama menghadapi perubahan pasar tenaga kerja.

Pelajaran apa yang bisa diambil Prancis dari pengalaman Tiongkok dengan AI?

Prancis bisa belajar pentingnya regulasi proaktif, pendampingan yang terfokus bagi pekerja, dan penerapan sistem pelatihan yang efektif, agar dapat mengubah dampak AI menjadi peluang daripada ancaman.

Nos partenaires (2)

  • digrazia.fr

    Digrazia est un magazine en ligne dédié à l’art de vivre. Voyages inspirants, gastronomie authentique, décoration élégante, maison chaleureuse et jardin naturel : chaque article célèbre le beau, le bon et le durable pour enrichir le quotidien.

  • maxilots-brest.fr

    maxilots-brest est un magazine d’actualité en ligne qui couvre l’information essentielle, les faits marquants, les tendances et les sujets qui comptent. Notre objectif est de proposer une information claire, accessible et réactive, avec un regard indépendant sur l’actualité.