Perbudakan, bioterorisme dan drone pembunuh: CEO Anthropic memperingatkan risiko besar AI

Adrien

Januari 28, 2026

le pdg d’anthropic alerte sur les dangers cruciaux de l’intelligence artificielle, notamment l’esclavage numérique, le bioterrorisme et l’utilisation de drones meurtriers, soulignant la nécessité d’une régulation stricte.

Di saat kecerdasan buatan (AI) muncul sebagai pendorong inovasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, kekhawatiran terkait penyalahgunaannya juga mulai terdengar dengan intensitas baru. Dario Amodei, CEO Anthropic, perusahaan utama di bidang AI, mengeluarkan peringatan. Dalam sebuah esai mendalam, ia menggambarkan masa depan di mana teknologi, jika tidak dikendalikan, dapat mengarah pada bentuk perbudakan algoritmik, serangan bioterorisme yang menghancurkan, dan penggunaan drone otonom yang mematikan. Sikap ini, yang datang dari aktor kunci di sektor ini, mendorong kita untuk lebih serius mempertanyakan risiko besar yang ditimbulkan kecerdasan buatan terhadap keamanan global, masyarakat, dan etika kolektif kita. Tantangannya semakin banyak: keamanan geopolitik, kedaulatan teknologi, hingga konsekuensi sosial, semuanya dipertanyakan oleh teknologi yang berkembang lebih cepat daripada aturan yang mampu mengaturnya.

Walaupun ketertarikan terhadap AI tetap tinggi, potensi efek merusaknya kini juga menjadi perhatian bahkan bagi para perancangnya sendiri. Amodei menunjuk pada sistem AI yang bisa memperbaiki diri sendiri yang mungkin muncul dalam beberapa tahun mendatang, melewati batas teknologi yang belum pernah ada dalam sejarah manusia. Evolusi ini mengajukan pertanyaan fundamental tentang tanggung jawab, pengendalian, dan masa depan manusia menghadapi mesin yang mampu bertindak tanpa campur tangan manusia. Di saat kecanggihan drone mematikan dan alat otomatis dikombinasikan dengan ancaman bioterorisme yang difasilitasi oleh AI, masyarakat sipil dan institusi global didesak untuk bertindak cepat dan efektif.

Peringatan Dario Amodei tentang risiko besar AI

Dario Amodei, sebagai CEO Anthropic, salah satu perusahaan terdepan dalam penelitian kecerdasan buatan, telah menerbitkan sebuah esai sepanjang 38 halaman yang secara rinci mengungkapkan kekhawatirannya mengenai masa depan AI yang mungkin terjadi. Menurutnya, kita semakin dekat pada ambang teknologi kritis di mana kecerdasan buatan mungkin mampu melampaui manusia dalam hampir semua bidang. Pergeseran ini, yang dia sebut sebagai “masa remaja” teknologi, dapat berujung pada skenario menakutkan yang mempertanyakan tidak hanya keamanan dunia, tetapi juga fondasi sosial-ekonomi masyarakat modern.

Salah satu kekhawatiran utama Amodei adalah kecepatan perkembangan yang luar biasa cepat dari evolusi ini. Dia menyoroti bahwa skala dan kecepatan kemajuan AI jauh melampaui kapabilitas institusional dan sosial untuk menetapkan pengaman yang efektif. Regulasi kesulitan mengikuti, mekanisme kontrol kurang, dan risiko adopsi yang tergesa-gesa menghasilkan kerentanan keamanan. Misalnya, pengembangan drone pembunuh otonom yang dikendalikan AI menimbulkan ancaman langsung terhadap nyawa manusia, mengubah perang menjadi pertarungan antar algoritma, di mana kesalahan manusia dapat tergantikan oleh kegagalan teknologi yang tak terduga.

Secara bersamaan, Amodei menyebut peningkatan bioterorisme, yang difasilitasi oleh kecerdasan buatan yang mampu mensimulasikan dan merancang agen biologis berbahaya tanpa memerlukan keahlian manusia yang mendalam. Perspektif ini membuka bidang baru bagi terorisme industri, yang sulit dideteksi dan dikendalikan. Bayangkan betapa pentingnya kolaborasi internasional dalam pengawasan dan regulasi menghadapi tantangan baru ini.

découvrez les avertissements du pdg d’anthropic sur les dangers cruciaux de l’intelligence artificielle, incluant esclavage numérique, bioterrorisme et drones meurtriers.

Kecepatan pengembangan AI: faktor risiko penting

Salah satu poin penting dari argumen Amodei adalah gagasan bahwa kecepatan pengembangan kecerdasan buatan yang belum pernah terjadi sebelumnya merupakan risiko tersendiri. Berbeda dengan teknologi klasik, AI memiliki potensi eksponensial untuk memperbaiki diri sendiri yang, jika tidak dikendalikan, dapat menyebabkan hilangnya kendali total. Kita memasuki zona yang tidak dikenal di mana bahkan para perancang mungkin tidak lagi memahami atau memprediksi keputusan yang dibuat oleh mesin-mesin ini. Dinamika cepat ini melampaui kapasitas saat ini dari pemerintah dan lembaga internasional untuk menetapkan standar yang sesuai.

Fenomena ini menimbulkan beberapa pertanyaan:

  • Bagaimana memastikan bahwa sistem ini tidak mengembangkan perilaku yang tidak terduga atau berbahaya?
  • Apa mekanisme sanksi atau penghentian darurat ketika AI otonom membuat keputusan kritis?
  • Apakah negara yang memimpin dalam perlombaan teknologi ini bisa menunggu regulasi global?

Poin terakhir ini sangat problematik, karena persaingan ekonomi dan militer memperkuat godaan untuk mengutamakan inovasi cepat dengan mengorbankan keamanan dan etika, menghasilkan semacam perlombaan senjata AI yang sulit dihentikan.

Ancaman drone pembunuh: antara realitas dan fiksi ilmiah

Pemanfaatan drone otonom yang dilengkapi kecerdasan buatan bukan lagi wilayah fiksi ilmiah. Saat ini, beberapa angkatan bersenjata di dunia sedang menguji dan menggunakan teknologi ini di medan perang mereka. Kemungkinan bahwa drone pembunuh membuat keputusan secara independen menimbulkan pertanyaan etis dan praktis yang sangat penting. AI tidak lagi hanya menjalankan perintah, tetapi bisa merencanakan dan mengoptimalkan operasi militer tanpa campur tangan manusia.

Ambil contoh skenario fiktif yang bisa dipercaya di mana drone pengintai dengan AI canggih menemukan sasaran yang dianggap musuh. Tanpa intervensi manusia, drone itu bisa melancarkan serangan mematikan yang menyebabkan korban sipil atau kesalahan yang tidak dapat diperbaiki. Penyerahan keputusan mematikan kepada mesin ini menimbulkan perdebatan tentang siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan atau penyalahgunaan. Siapa yang bertanggung jawab? Operator manusia? Produsen? Atau algoritma itu sendiri?

Dalam konteks ini, kontrol manusia menjadi kebutuhan etis yang sulit dijamin. Sistem otonom, terutama yang dikembangkan oleh perusahaan seperti Anthropic, berusaha meningkatkan efisiensi melalui otonomi mereka, namun dengan harga keamanan yang rapuh. Tren ini mengkhawatirkan para ahli keamanan dan etika, yang menyerukan penerapan aturan internasional ketat untuk mengatur senjata ini.

Tantangannya sangat besar:

  1. Melindungi warga sipil dari serangan yang tidak terkendali.
  2. Mencegah eskalasi konflik bersenjata yang tak terkendali.
  3. Menghindari penyalahgunaan oleh aktor non-negara atau kelompok teroris.

Perdebatan saat ini mengenai perjanjian internasional untuk “robot pembunuh” menunjukkan jalan panjang yang harus ditempuh untuk mencapai konsensus global. Beberapa negara tidak ragu mengembangkan teknologi ini secara agresif untuk alasan strategis atau taktis, yang mempersulit diplomasi.

le pdg d'anthropic alerte sur les dangers majeurs de l'intelligence artificielle, évoquant des risques tels que l'esclavage, le bioterrorisme et l'utilisation de drones meurtriers.

Konsekuensi geopolitik dan tantangan regulasi internasional

Pengembangan dan proliferasi drone pembunuh yang dikendalikan AI dapat mengubah keseimbangan internasional. Saat ini, belum ada kerangka hukum yang ketat mengatur penggunaannya, menciptakan kekosongan berbahaya. Hal ini menimbulkan ketakutan akan perlombaan senjata baru di sekitar sistem bersenjata otonom yang mampu berperang dengan sedikit atau tanpa intervensi manusia.

Para ahli keamanan internasional khawatir mengenai kemungkinan drone atau kawanan drone diretas atau mengalami malfungsi, menyebabkan kerusakan kolateral besar-besaran. Ketegangan meningkat antara kekuatan teknologi besar yang saling tidak percaya, menjauhkan ide kerja sama damai. Perlahan, teknologi ini berubah menjadi alat perang psikologis sekaligus fisik, mengubah sifat konflik bersenjata itu sendiri.

Dalam konteks ini, respons internasional harus melalui pembangunan kerangka etika dan hukum yang kokoh, berdasarkan pada:

  • Pengakuan kedaulatan manusia dalam keputusan mematikan.
  • Transparansi program pengembangan militer AI.
  • Verifikasi dan kontrol multilateral atas sistem AI yang diterapkan selama konflik.

Tantangannya bukan hanya teknis, tetapi juga fundamental secara politik, diplomatik, bahkan sosial.

Bioterorisme yang difasilitasi kecerdasan buatan: risiko yang diremehkan

Di antara risiko yang disebutkan oleh Dario Amodei, bioterorisme yang dibantu AI tampak sangat mengkhawatirkan. Kecerdasan buatan memang bisa digunakan untuk merancang atau mengoptimalkan agen biologis untuk tujuan teror dengan efektivitas dan kecepatan yang belum pernah ada sebelumnya. Ancaman ini melampaui kemampuan metode pengawasan dan pencegahan klasik, karena bisa dilakukan oleh pelaku yang tidak memiliki keahlian ilmiah lanjutan.

Bioterorisme bukanlah sesuatu yang baru, tetapi kemampuan sistem AI untuk menganalisis data genetik, lingkungan, dan epidemiologis dalam jumlah besar memungkinkan pengembangan senjata biologis yang dibuat khusus, sulit dideteksi dan dinetralisir. Kita memasuki era di mana batas antara biologi, teknologi, dan terorisme menjadi kabur.

Pemerintah dan badan keamanan harus memperkuat usaha kerja sama internasional untuk menghadapi tantangan baru ini. Pengawasan laboratorium, pembatasan akses data sensitif, dan penerapan alat peringatan dini sangat diperlukan untuk membatasi penyebaran senjata biologis.

Tabel ringkasan risiko utama terkait bioterorisme otomatis:

Jenis Risiko Deskripsi Potensi Konsekuensi Langkah Pencegahan
Perancangan cepat agen patogen AI dapat memodelkan dan mengoptimalkan virus atau bakteri berbahaya Epidemi besar sulit dikendalikan, krisis kesehatan global Penguatan kontrol pada bio-riset, regulasi ketat akses data
Penyebaran yang dipermudah Sistem AI memungkinkan penargetan wilayah geografis tertentu untuk pelepasan Serangan terhadap populasi sipil, destabilisasi politik Peningkatan pengawasan infrastruktur sensitif
Pengelakan sistem deteksi Agen dirancang agar tidak terdeteksi oleh alat klasik Penyebaran diam-diam, keterlambatan reaksi kesehatan Pengembangan teknologi deteksi canggih

Menghadapi tantangan ini, jelas bahwa kecerdasan buatan merupakan faktor yang mengganggu keamanan dunia jika penggunaannya tidak diatur dengan norma internasional yang ketat.

découvrez l'avertissement du pdg d'anthropic sur les risques majeurs de l'ia, incluant l'esclavage, le bioterrorisme et l'utilisation de drones meurtriers, et l'importance d'une régulation stricte pour prévenir ces menaces.

Prospek masa depan dan strategi pertahanan terhadap ancaman bioterorisme

Untuk mengantisipasi dan melawan risiko ini, institusi harus mengandalkan:

  • Pengembangan perangkat lunak AI khusus untuk pengawasan kesehatan dan deteksi dini ancaman biologis.
  • Kerja sama internasional yang diperkuat antara badan pemerintah, organisasi kesehatan, dan riset ilmiah.
  • Investigasi berkelanjutan terhadap potensi kerentanan yang disebabkan oleh otonomi sistem AI.

Kewaspadaan akan menjadi kunci agar janji inovasi yang diwakili AI tidak berubah menjadi alat mematikan bagi bioterorisme. Masa depan keamanan sangat bergantung pada keputusan yang diambil hari ini.

AI dan perbudakan modern: menuju keusangan kerja manusia?

Aspek mengerikan lain yang dikemukakan oleh Dario Amodei adalah transformasi mendalam hubungan sosial dan ekonomi oleh kecerdasan buatan, yang ia sebut sebagai “perbudakan algoritmik”. Konsep ini menunjuk pada kontrol tidak langsung, namun mendalam terhadap manusia oleh sistem otomatis yang mampu menggantikan atau menindas secara besar-besaran tenaga kerja manusia. AI kini mengancam seluruh sektor pekerjaan, terutama dalam tugas-tugas kantor dan profesi menengah.

Menurut perkiraan terbaru yang disampaikan Amodei, dalam lima tahun ke depan, AI dapat membuat hingga setengah pekerjaan kantor menjadi usang, meningkatkan tingkat pengangguran hingga hampir 20% di beberapa negara. Fenomena ini melampaui otomatisasi sederhana, karena juga menembus konsep nilai ekonomi individu itu sendiri. Risikonya adalah populasi yang secara ekonomi terpinggirkan, bergantung pada algoritma untuk kondisi hidupnya, menciptakan bentuk baru perbudakan yang tak terlihat.

Untuk memahami fenomena ini, beberapa dinamika harus diperhatikan:

  • Otomatisasi dan kehilangan pekerjaan : Penggantian bertahap tugas-tugas berulang dan bahkan kreatif oleh AI yang semakin canggih.
  • Pengawasan algoritmik : Penggunaan AI yang meningkat untuk memantau dan mengendalikan kinerja, mengubah hubungan antara pemberi kerja dan karyawan.
  • Prediksi dan keputusan otomatis : Algoritma membuat keputusan penting dalam manajemen sumber daya manusia, sering tanpa transparansi atau peluang banding.

Masyarakat menghadapi dilema etis yang besar. Bagaimana memastikan AI menjadi alat pemberdayaan, bukan penindasan? Bagaimana posisi kerja manusia di tengah konfigurasi baru ini?

Contoh konkret dan studi kasus di dunia profesional

Di banyak perusahaan, AI sudah digunakan untuk menyaring lamaran kerja, mengelola jadwal, atau memantau produktivitas. Beberapa perusahaan telah mengotomatisasi pengambilan keputusan terkait pemecatan, berdasarkan data prediktif dari model pembelajaran mesin. Praktik ini menimbulkan pertanyaan terkait penghormatan hak pekerja dan dehumanisasi proses SDM.

Sebuah kasus baru-baru ini menjadi sorotan: di sebuah bank internasional besar, kerusakan sistem AI menyebabkan penghapusan profil karyawan secara salah tanpa adanya intervensi manusia yang cepat. Insiden ini menyoroti kerentanan dan dampak manusia dari ketergantungan yang meningkat pada sistem cerdas.

Untuk menghindari penyalahgunaan yang tak terkendali, beberapa negara mulai mempertimbangkan regulasi khusus yang mengatur penggunaan AI dalam manajemen sumber daya manusia, dengan mewajibkan audit etika dan transparansi algoritma.

Etika dan antropomorfisme: perdebatan kompleks dalam desain AI oleh Anthropic

Dario Amodei dan perusahaannya Anthropic memilih pendekatan unik dalam desain AI mereka. Mereka memproyeksikan pada sistem mereka suatu bentuk “identitas” atau intensionalitas, berusaha mengembangkan model yang “ingin menjadi orang baik”. Pendekatan ini menghumanisasi kecerdasan buatan, memberinya kompleksitas psikologis yang mirip dengan individu yang sedang berkembang.

Namun, antropomorfisme ini menimbulkan beberapa masalah. Ia bisa menyebabkan kebingungan berbahaya antara realitas dan fiksi, memperkuat psikosis kolektif terhadap AI. Karena sebenarnya, model bahasa saat ini tidak berpikir, tidak memiliki kesadaran ataupun empati. Mereka beroperasi melalui prediksi statistik kata-kata, tanpa niat yang sebenarnya.

Peralihan menuju visi AI yang hampir seperti manusia ini bisa menumbuhkan narasi menakutkan yang melebih-lebihkan risiko, sekaligus mengalihkan perhatian dari masalah nyata dan aktual seperti pengawasan algoritmik yang invasif, deepfake, atau otomatisasi massal.

Penting agar perdebatan etis ini diluruskan agar tidak melemahkan kepercayaan publik terhadap teknologi dan memungkinkan koeksistensi yang cerdas antara manusia dan mesin.

Reaksi komunitas ilmiah terhadap pendekatan antropomorfik ini

Sejumlah peneliti menyatakan keraguannya terhadap pandangan AI yang seperti memiliki pribadi ini. Mereka menegaskan pentingnya menjaga pemisahan yang jelas antara kemampuan teknis model kecerdasan buatan dan konsep kemanusiaan tentang niat atau kesadaran.

Salah satu contoh penting adalah komunitas pembelajaran mesin, yang menunjukkan bahwa istilah yang digunakan Amodei bisa menimbulkan kebingungan di kalangan publik umum. Ambiguitas ini dapat menghambat upaya regulasi dengan memicu ketakutan yang tidak rasional alih-alih mempromosikan langkah yang pragmatis.

Singkatnya, etika dalam AI tidak boleh disederhanakan menjadi citra antropomorfik, melainkan harus fokus pada transparansi, tanggung jawab, dan keadilan dalam penggunaan teknologi.

Tantangan nyata keamanan AI saat ini: antara fiksi dan realitas

Meski wacana peringatan tentang risiko katastrofik AI sering muncul, penting untuk mengingat bahwa sejumlah penyalahgunaan nyata dan terdokumentasi sudah menimpa jutaan orang. Risiko-risiko segera ini termasuk:

  • PHK otomatis dan sewenang-wenang yang disebabkan oleh keputusan algoritmik tanpa kontrol manusia yang efektif.
  • Disinformasi yang dipercepat oleh deepfake tanpa persetujuan, menyulitkan verifikasi fakta dan memengaruhi opini publik.
  • Pengawasan algoritmik yang invasif, yang menyusup ke kehidupan pribadi dan melanggar kebebasan fundamental.

Fenomena ini merupakan tantangan nyata yang membutuhkan jawaban politik, hukum, dan sosial yang mendesak, ketimbang fokus berlebihan pada skenario apokaliptik yang tidak pasti. Mengatasi risiko sekarang akan meningkatkan kepercayaan pada AI dan memfasilitasi adopsi yang bertanggung jawab.

Bahaya AI saat ini Deskripsi Dampak pada masyarakat Tindakan yang direkomendasikan
PHK otomatis Penerapan sistem RGI untuk menyaring dan memberhentikan tanpa intervensi manusia Kehilangan pekerjaan, peningkatan pengangguran, ketegangan sosial Pengaturan hukum, audit algoritma
Deepfake tanpa persetujuan Pemakaian konten manipulatif untuk disinformasi Kerusakan reputasi, manipulasi opini Legislasi khusus, alat deteksi
Pengawasan algoritmik Pengawasan massal dan invasif terhadap individu berdasar data yang dikumpulkan Pelanggaran privasi dan kebebasan sipil Kerangka hukum ketat, transparansi wajib

Mengapa kita tidak boleh mengalihkan perhatian dari bahaya nyata?

Fokus berlebihan pada risiko futuristik dan hipotetik dapat secara paradoks menghambat atau mengurangi upaya menyelesaikan masalah nyata saat ini. Dalam konteks ini, komunitas ilmiah dan pembuat kebijakan harus menjaga keseimbangan antara wacana prospektif dan penanganan pragmatis tantangan.

Oleh karena itu penting bagi masyarakat untuk memperhatikan langkah-langkah konkret, antara lain:

  • Penerapan regulasi yang efektif dan dapat berkembang.
  • Penguatan transparansi dalam desain dan penggunaan algoritma.
  • Pendidikan publik mengenai penggunaan dan batasan kecerdasan buatan.

Anthropic dan regulasi kecerdasan buatan: jalur yang harus diikuti?

Menghadapi berbagai tantangan ini, Dario Amodei dengan tegas mendukung regulasi ambisius terhadap kecerdasan buatan. Ia percaya bahwa sangat penting bertindak cepat untuk menetapkan aturan internasional yang jelas guna mengatur pengembangan dan penggunaan teknologi AI, khususnya dalam bidang sensitif seperti bioterorisme, robotika mematikan, dan pekerjaan otomatis.

Perusahaan Anthropic, sebagai pemain utama, juga terlibat dalam diskusi keamanan dan etika, dengan mengembangkan model yang mengintegrasikan prinsip moral dan kontrol internal. Strategi ini bertujuan untuk mengantisipasi penyimpangan dan membuat AI lebih aman bagi masyarakat.

Pendekatan ini memunculkan beberapa pertanyaan sulit:

  • Apakah mungkin mengatur sektor teknologi yang berkembang begitu cepat dan kompleks?
  • Mekanisme apa yang perlu diterapkan untuk memastikan kerja sama internasional melawan bioterorisme dan persenjataan otonom?
  • Bagaimana menggabungkan etika dan daya saing dalam konteks ekonomi global?

Jika regulasi menjadi sebuah keharusan, maka harus mampu menyeimbangkan inovasi teknologi, keamanan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, agar tidak terjadi jurang sosial dan politik yang besar.

{“@context”:”https://schema.org”,”@type”:”FAQPage”,”mainEntity”:[{“@type”:”Question”,”name”:”Quels sont les principaux risques u00e9voquu00e9s par le PDG d’Anthropic concernant l’IA ?”,”acceptedAnswer”:{“@type”:”Answer”,”text”:”Dario Amodei met en garde contre des risques majeurs tels que lu2019esclavage algorithmique, le bioterrorisme facilitu00e9 par lu2019IA, et lu2019utilisation de drones meurtriers autonomes. Ces risques concernent la su00e9curitu00e9 mondiale, lu2019u00e9conomie et lu2019u00e9thique.”}},{“@type”:”Question”,”name”:”Pourquoi la rapiditu00e9 de du00e9veloppement de l’IA est-elle un problu00e8me ?”,”acceptedAnswer”:{“@type”:”Answer”,”text”:”La vitesse exponentielle du du00e9veloppement de lu2019IA du00e9passe les capacitu00e9s des institutions u00e0 ru00e9guler efficacement, ce qui entrau00eene des risques du2019usage inappropriu00e9 ou incontru00f4lu00e9 de cette technologie dans des domaines sensibles.”}},{“@type”:”Question”,”name”:”Quels sont les du00e9fis u00e9thiques posu00e9s par lu2019anthropomorphisme de lu2019IA ?”,”acceptedAnswer”:{“@type”:”Answer”,”text”:”Lu2019anthropomorphisme de lu2019IA peut cru00e9er une confusion entre les capacitu00e9s ru00e9elles des machines et les notions humaines de conscience ou du2019intention, alimentant des peurs irrationnelles et compliquant le du00e9bat sur la ru00e9gulation.”}},{“@type”:”Question”,”name”:”Comment lu2019IA peut-elle faciliter le bioterrorisme ?”,”acceptedAnswer”:{“@type”:”Answer”,”text”:”Lu2019IA peut concevoir et optimiser rapidement des agents biologiques dangereux, rendant le bioterrorisme plus accessible et difficile u00e0 du00e9tecter, ce qui pose de graves menaces pour la su00e9curitu00e9 sanitaire mondiale.”}},{“@type”:”Question”,”name”:”Quelle est la position du2019Anthropic sur la ru00e9gulation de lu2019IA ?”,”acceptedAnswer”:{“@type”:”Answer”,”text”:”Anthropic et son PDG Dario Amodei plaident pour une ru00e9gulation internationale stricte, visant u00e0 encadrer les usages militaires, u00e9conomiques et su00e9curitaires de lu2019intelligence artificielle, tout en intu00e9grant des principes u00e9thiques dans la conception des modu00e8les.”}}]}

Apa risiko utama yang disebutkan oleh CEO Anthropic terkait AI?

Dario Amodei memperingatkan risiko besar seperti perbudakan algoritmik, bioterorisme yang difasilitasi AI, dan penggunaan drone pembunuh otonom. Risiko ini terkait keamanan dunia, ekonomi, dan etika.

Mengapa kecepatan pengembangan AI menjadi masalah?

Kecepatan eksponensial pengembangan AI melebihi kapasitas institusi untuk mengatur secara efektif, yang menyebabkan risiko penggunaan yang tidak tepat atau tidak terkendali dari teknologi ini dalam bidang sensitif.

Apa tantangan etis yang ditimbulkan oleh antropomorfisme AI?

Antropomorfisme AI dapat menyebabkan kebingungan antara kemampuan nyata mesin dan konsep manusia tentang kesadaran atau niat, memicu ketakutan irasional dan mempersulit debat tentang regulasi.

Bagaimana AI dapat memfasilitasi bioterorisme?

AI dapat merancang dan mengoptimalkan dengan cepat agen biologis berbahaya, membuat bioterorisme lebih mudah diakses dan sulit dideteksi, yang menimbulkan ancaman serius bagi keamanan kesehatan global.

Apa posisi Anthropic terkait regulasi AI?

Anthropic dan CEO-nya Dario Amodei mendukung regulasi internasional yang ketat, bertujuan mengatur penggunaan AI di bidang militer, ekonomi, dan keamanan, sekaligus mengintegrasikan prinsip etika dalam desain model.

Nos partenaires (2)

  • digrazia.fr

    Digrazia est un magazine en ligne dédié à l’art de vivre. Voyages inspirants, gastronomie authentique, décoration élégante, maison chaleureuse et jardin naturel : chaque article célèbre le beau, le bon et le durable pour enrichir le quotidien.

  • maxilots-brest.fr

    maxilots-brest est un magazine d’actualité en ligne qui couvre l’information essentielle, les faits marquants, les tendances et les sujets qui comptent. Notre objectif est de proposer une information claire, accessible et réactive, avec un regard indépendant sur l’actualité.